Wednesday , November 22 2017
Home / Nasional / Nuroji: Jaga Pancasila Lewat Penguatan Identitas Bangsa

Nuroji: Jaga Pancasila Lewat Penguatan Identitas Bangsa

depokklik.com — Fenomena kebebasan yang tak terkendali makin mewarnai dinamika politik akhir-akhir ini, banyak yang menduga sebagai pencerminan dari lunturnya semangat nasionalisme. Saat ini nasionalisme Indonesia seolah dilupakan, yang sebelumnya dijadikan etos perjuangan bangsa dalam menghadapi berbagai masalah, baik yang datang dari luar maupun di dalam negeri.

Kebebasan berpikir dan pengaruh teknologi informasi telah menembus batas negara, sumber referensi sejarah masa lalu mulai ditinggalkan, dan digantikan globalisme.

“Akibatnya, nilai-nilai budaya sebagai perekat persatuan segenap enerji bangsa kian menghilang, kian merngurang pula kepedulian terhadap latar belakang sosial budaya yang ada. Tentu saja akan beresiko menggerus falsafah bangsa, yaitu Pancasila,” tutur Anggota MPR RI Nuroji.

Dijelaskan, nilai budaya perekat persatuan tersebut pada masa pemerintahan Orde Baru, direkayasa dengan menggunakan sistem komando. Demi stabilitas nasional, segala kemajemukan ditolerir sejauh mendukung paradigma pemerintah tersebut.

“Sebaliknya, pemerintah senantiasa bertindak tegas dalam menghadapi berbagai tafsir keragaman yang berasal dari luar pemerintah. Termasuk keberadaan nilai-nilai kearifan lokal dieliminir demi terselenggaranya pemerintahan yang efektif. Konsekuensinya, kesatuan terlihat lebih menonjol dari pada persatuan,” tandas politisi dari Partai Gerindra ini.

Konsekwensi kondisi seperti itu, dari waktu ke waktu nilai-nilai luhur itu mulai meredup, memudar, kehilangan makna substantifnya. Lalu yang tertinggal hanya kulit permukaan semata, menjadi simbol yang tanpa arti.

“Bahkan akhir-akhir ini budaya masyarakat hampir secara keseluruhan mengalami reduksi, menampakkan diri sekadar pajangan yang sarat formalitas. Kehadirannya tak lebih untuk komersialisasi dan mengeruk keuntungan,” tandas putra asli Depok ini.

Selanjutnya Anggota Komisi X DPR RI ini menjelaskan bahwa untuk menjaga Pancasila, perlu adanya penguatan identitas bangsa. Penguatan identitas bangsa itu dapat dilakukan melalui penguatan budaya lokal.

“Untuk menjaga Pancasila, perlu penguatan identitas bangsa. Sementara banyak faktor yang membuat nilai-nilai budaya daerah kehilangan geliat kekuatannya. Selain kekurangmampuan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal, juga faktor pragmatisme dan keserakahan dari sebagian elit masyarakat.

“Kepentingan subyektif diri mengantarkan mereka untuk ‘memanfaatkan’ budaya daerah. Namun dalam praktiknya konsep pembangunan mulai mengalami banyak perubahan, timbul tantangan baru yang menghambat pembaruan wawasan nasionalisme,” jelasnya

Atas dasar kenyataan itu, Nuroji menawarkan perlunya pemikiran ulang kontekstualisasi nasionalisme Indonesia dan nilai-nilai kearifan lokal. Pemikiran ini bisa ditindaklanjuti melalui pembangunan karakter berbasis nilai-nilai budaya daerah.

“Tujuannya adalah untuk menemukan kembali nilai-nilai kearifan lokal sebagai sumber daya untuk menumbuhkan nasionalisme bangsa Indonesia. Hal ini diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi seluruh bangsa, agar lebih mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara,” paparnya.

Nuroji mencontohkan, untuk penguatan identitas bangsa dapat dilakukan oleh guru. Guru dapat menggali sejarah lokal di daerah masing-masing dan mengajarkan pada siswa agar mengetahui sejarah daerahnya.

“Guru dalam hal ini harus kreatif, dengan menggali sejarah lokal di daerah masing-masing dan mengajarkan pada siswa agar mengetahui sejarah daerahnya. Karena itu, guru perlu bersama-sama menggeliatkan dan menggali sejarah lokal daerah masing-masing,” ujar Nuroji dalam Sosialisasi Hasil Keputusan MPR RI, di Depok, Rabu 14 Juni 2017.

Selanjutnya, Nuroji meminta guru untuk memulai mengajak siswa untuk menggali sejarah daerahnya sebelum mengenal sejarah nasional.

“Guru sebaiknya mulai mengajak siswa dan memberikan tugas kepada mereka untuk menggali sejarah lokal, agar mengetahui sejarah daerahnya sendiri sebelum mengenal sejarah nasional. Guru sebaiknya mulai mengajak siswa dan memberikan tugas kepada mereka untuk menggali sejarah lokal, agar mengetahui sejarah daerahnya sendiri sebelum mengenal sejarah nasional. Dengan demikian, diharapkan guru sebagai agen perubahan bisa berdampak pada seribu siswa,” pungkasnya. (*)

Check Also

Nuroji: Pancasila Perlu Disampaikan Secara Kreatif

depokklik.com — Pancasila dan nilai-nilai yang dikandungnya harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *