Monday , October 15 2018
Home / Pedidikan / Zaenal Muttaqin: Perbedaan Furu’iyah Tak Boleh Disikapi Berlebihan

Zaenal Muttaqin: Perbedaan Furu’iyah Tak Boleh Disikapi Berlebihan

depokklik.com — Ajaran Islam haruslah kita letakkan dalam dalam bingkai yang tepat, perbedaan yang terjadi janganlah dibesar-besarkan. Seperti dalam ajaran Islam bahwa adanya perbedaan cabang dalam fiqih (furu’iyah) atau perbedaan dalam furu’ itu suatu hal yang pasti terjadi. Seperti bacaan basmalah dalam Imam Sholat, ada yang dibunyikan (jahr) dan ada yang dipelankan (sir).

“Dalam menanggapi Furu’iyah tersebut, tidak boleh disikapi dengan berlebihan, harus saling kerjasama dalam hal yang disepakati atau saling toleransi. Jangan sampai terjadi perselisihan yang tajam, kalau itu terjadi sama dengan mencukur agama,” tutur Ustadz muda, Zaenal Muttaqin dalam Kajian Fiqh, Rabu 14 Februari 2018 Shubuh, di Masjid Baiturrahim Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok.

Selanjutnya, Zaenal Muttaqin menjelaskan jika ada perselisihan atau perbedaan pendapat, dengan merujuk kasus yang dialami sahabat-sahabat nabi ketika harus menjalankan sholat dalam perjalanan.

“Timbul pertanyaan, kalau terjadi perselisihan. Zaman Nabi Muhammad SAW langsung ditanyakan kepada beliau, sebagai contoh berkaitan dengan musafir atau bepergian, bahwa Nabi meminta jangan sholat sebelum sampai di tempat tujuan yaitu di Bani Quraidzah,” tutur Zaenal.

Dijelaskan, para sahabat ada yang melakukan sholat di perjalanan, ada yang baru melaksanakan sholat ashar setelah sampai di tempat tujuan dan Nabi ternyata memperbolehkannya, karena itu sebagai pendapat para sahabat (ijtihad) dalam Kitab Fathul Bari.

“Contoh lain seperti menyentuh wanita dalam keadaan wudhu sebelum sholat, ada perbedaan dalam memaknai sentuhan itu. Ada juga contoh lain lagi, sholat dengan tayamum, sekalipun kemudian ditemukan ada air, ada yang wudhu lagi ada yang tidak. Kata Nabi SAW yang wudhu dapat dua pahala,” jelas Zaenal.

Dengan demikian, lanjutnya, jika semua adalah perpedaan pendapat (ikhtilaf), bahkan apabila ada pendapat (ijtihad) sekalipun salah, mereka tidak berdosa.

Namun bagaimana apabila terjadi saat ini, karena Nabi sudah tiada (wafat)? Maka yang perlu dilakukan adalah memakai pendapat beberapa ulama (ijma’). Sedangkan bila pendapat Ulama ada perbedaan atau ada perbedaan (khilafiah) antarulama, maka tetap perlu menjaga persatuan.

“Jika Zaman Nabi Muhammad SAW, langsung bisa tanyakan kepada beliau. Namun setelah Nabi wafat, maka perlu  memakai pendapat beberapa ulama (ijma’). Sedangkan bila pendapat Ulama ada perbedaan atau ada khilafiah antarulama, maka tetap menjaga persatuan,” pungkasnya. (is/syur)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *