Thursday , September 20 2018
Home / Pedidikan / Ustadz Arif Budiman: Kaum Israel Yang Selalu Ingkar Janji

Ustadz Arif Budiman: Kaum Israel Yang Selalu Ingkar Janji

depokklik.com — Tidak hanya mengingkari janjinya kepada Allah, Kaum (Bani) Israil juga suka mengkhianati perjanjian-perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Kaum Muslimin. Tercatat jelas dalam sejarah para nabi hingga era millenium ini, deretan daftar panjang perjanjian-perjanjian yang dikhianati oleh kaum Yahudi ini.

Melanggar perjanjian membuat mereka diusir dari Madinah dan menciptakan beberapa perang besar. Pelanggaran panjang pun selalu mereka lakukan di dalam konflik berdarah Palestina-Israel. Yang terbaru adalah kaum Yahudi ini melanggar perjanjian international dengan tidak mematuhi resolusi PBB dalam penyerangan koalisi terhadap Libya.

“’Kami tidak akan beriman kepadamu (Musa) sebelum kami dapat melihat Allah dengan terang’. ‘Jahroh’ yang bermakna terang-terangan, maksudnya bahwa kami akan  beriman kepadamu, bila kami dapat melihat Allah dengan terang, tidak dalam kalam saja. Inilah permintaan Bani Israel, yang sebenarnya janji itu untuk diingkarinya,” tutur Ustadz Haji Arif Budiman, dalam Kajian Tafsir Ahad Shubuh, 18 Februari 2018, di Masjid Baiturrahim, Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok.

Selanjutnya Ustadz jebolan Pondok Pesantren Darussalam Rajapolah Tasikmalaya ini menjelaskan Al Quran Surat Al-Baqoroh ayat 55, 56, dan 57 bahwa penafsiran selalu terkait dengan ayat atau surat yang lain atau selalu ada pasangannya. Qoro’a, yaqro’u, qur’anan, bacaan yang diulang-diulang. Sering disebut tafsir qur’an bil qur’an. Satu tema atau kisah dalam satu surat, diulang dalam surat lainnya dengan redaksi yang berbeda, dan bertambah menjadi penjelasan kisah sebelumnya.

Runtut ceritanya adalah ayat ini turun setelah Nabi Harun wafat sebagaimana dalam Tafsir Al Azhar, karangan Buya HAMKA, setelah Nabi Musa kembali melihat umatnya  menyembah anak sapi, Nabi Musa marah karena telah mengajak umatnya yang sudah bertaubat, 70 orang untuk diajak belajar ilmu lagi, sudah bertaubat, namun berubah ingkar lagi. Inilah contoh negatif, taubat lagi, ingkar lagi, berbuat dosa lagi, dan seterusnya

“Di dalam Tafsir Al Azhar, kata ‘laka’ berarti kembali kepada Musa untuk menunjukkan Tuhannya secara nyata, akhirnya Allah timpakan halilintar, petir, atau gempa yang membelah tanah, sehingga 70 orang itu masuk dalam tanah dan Musa pingsan. Peristiwa itu merupakan salah satu bentuk hukuman Allah kepada umat Musa. Setelah mereka menyembah sapi, kemudian 70 orang tersebut bertobat, taubat itu karena ajakan kembali oleh Musa. Tetapi kaum Musa tersebut ingkar yang kembali menyembah sapi, di situlah murka atau marah Allah, menimpakannya dengan petir atau gempa,” tutur Master Ekononomi Syariah Universitas Indonesia ini.

Selanjutnya alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini menjelaskan bahwa Allah telah membangkitkan kembali saat itu juga setelah dimatikan Allah, sebagaimana dalam Surat Al ‘Arof ayat 155 yang berbunyi; “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang orang yang kurang akal di antara kami?”

Nabi Musa akhirnya bedoa kepada Allah bahwa “Sesunguhnya mereka semua itu, yaitu 70 orang yang bodoh, karena itu ya Allah, jangan kau matikan mereka, nanti umat manusia tidak akan percaya lagi denganku sebagai Nabi,” kata Musa. Akhirnya Allah hidupkan kembali, kata Musa, “Untuk apa ? Supaya kembali bersyukur dan taat kepada Allah,” ternyata doa Nabi Musa dikabulkan oleh Allah.

Ada yang berpendapat bahwa 70 orang itu hanya pingsan. Di dalam Surat Al Al ‘Arof itu sangat jelas bahwa sebenarnya mereka, 70 orang tersebut sudah mati, namun hanya belum sampai ke alam barzah.

Akhirnya ke-70 orang itu oleh Nabi Musa dibawa ke Bukit Thursina. Selama perjalanannya, mereka selalu dibarengi atau dilindungi oleh kumpulan awan dan awan itu bergerak terus, dari tempat awal sampai ke Bukit Thursina, sebagaimana Surat Al-Maidah ayat 24 sampai 26, mereka itu berkeliling dari negeri Mesir sampai ke Palestina selama 40 tahun.

Selanjutnya 70 orang berkata, “Ya Musa katakan pada Tuhan Mu, mintalah rezeki, makanan.” Dan Allah kabulkan permintaan itu berupa ‘almanna’, yang merupakan buah-buahan berwarna kuning seperti cherry, manis rasanya seperti madu, sebagai pengenyang perut. Dan ‘salwa’ sejenis burung pipit. Makanan yang baik-baik ini berarti ‘manna’ dan ‘salwa’ itu halal, tetapi tidak tahan lama.

“Begitu rakus dan serakahnya mereka, makanan menjadi rebutan di antara mereka, dan mereka simpan makanan itu, sampai 7 hari, karena makanan ini tidak tahan lama akhirnya busuk. Hal inilah gambaran kaum Yahudi atau Bani Israil yang perbuatannya selalu diulang-ulang. Mereka bertobat, ingkar lagi, dan tobat lagi, dan seterusnya. Bahkan mereka tidak berterima kasih kepada Nabi Musa, justru mereka, 70 orang itu membangkang dan menghina Musa,” pungkasnya. (is/syur)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *