Thursday , September 20 2018
Home / Pedidikan / Agus Ismanto: Membangun Peradaban Islam Dimulai Dari Masjid

Agus Ismanto: Membangun Peradaban Islam Dimulai Dari Masjid

depokklik.com — Indonesia selama ini dikenal dengan jumlah penduduk Islam terbesar di seluruh dunia, bahkan mengalahkan populasi penduduk Islam di negara Arab Saudi. Saat ini populasi umat Islam di dunia berjumlah sekitar 23,4 persen dari total penduduk dunia dan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Untuk Indonesia, pemeluk agama Islam pada tahun 2010 sebanyak 207,2 juta jiwa atau 87,18 persen.

“Potensi yang besar tersebut, dapat menjadi modal dalam menyusun kebangkitkan kembali peradaban Islam di Indonesia. Kebangkitan itu dapat kita mulai dari masjid. Dari masjidlah  pendidikan dapat kita kembangkan secara masif,” tutur pemerhati pendidikan, Agus Ismanto, dalam Kultum di Masjid Baiturrahim, Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok, Ahad malam 18 Februari 2018.

Mengapa umat Islam perlu mengembangkan peradaban lewat pendidikan yang dimulai dari masjid? Menurut, Agus, karena dirinya menganggap bahwa Pemerintah tidak serius dalam mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20% untuk pendidikan, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah. Sementara hal itu menjadi amanat konstitusi.

“Bila kita melihat postur anggaran pendidikan APBN 2017, bahwa total belanja negara sebesar 2.080 T, 20% nya sebesar 416 T haruslah diperuntukkan bagi pendidikan, baik di pusat maupun di daerah. Hal itu sesuai dengan amanat konstitusi. Namun yang terjadi, tiga kementerian yang membidangi pendidikan seperti Kemendikbud hanya mendapatkan anggrana 39,8 T, Kemenag hanya mendapatkan anggaran 50,4 T, dan Kemenristekdikti hanya mendapatkan anggaran 38,7 T, 17. Sisanya dikelola oleh kementerian dan lembaga dan transfer daerah,” tuturnya.

Selanjutnya, Tenaga Ahli Komisi X (Bidang Pendidikan) DPR RI itu menjelaskan, selain tiga kementerian itu, pengelolaan dana pendidikan sulit untuk dilakukan pengontrolannya. Peruntukannya apa saja, dan siapa yang bertanggung jawab, sulit untuk dideteksi.

“Untuk itu, dengan kondisi seperti ini tentu saja dampaknya sangat besar terhadap umat Islam di Indonesia, yang berjumlah delapan puluh persen lebih. Selain kita harus mengkritis, kita juga harus membangun kesadaran umat secara bersama bahwa umat Islam tidak boleh menyerah. Kita perlu membangun pendidikan yang dikelola secara mandiri oleh umat Islam, dengan kualitas yang lebih baik. Hal itu persemaiannya dapat dimulai dari masjid,” tegasnya.

Untuk membangun pendidikan yang berkualitas, menurut Agus, harus diperhatikan delapan standar nasional pendidikan, yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar pengelolaan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar evaluasi, standar pembiayaan, standar sarana dan prasarana.

“Jika delapan standar nasional pendidikan itu dapat dicapai oleh pendidikan Islam di Indonesia, yang dimulai dari masjid, tidak dapat disangkal lagi bahwa pembangunan peradaban Islam di Indonesia bukan sesuatu yang susah untuk diwujudkan. Karena basisnya, yaitu pendidikan yang berkualitas sudah di tangan kita,” tutur alumni Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang ini.

Namun demikian, dirinya memahami bahwa mentalitas umat Islam di Indonesia dalam memperlakukan pendidikan Islam masih sangat rendah dibandingkan perlakuannya terhadap pendidikan umum. Umat Islam masih ringan untuk mengeluarkan uangnya untuk pendidikan umum dibandingkan dengan mengeluarkan uang untuk pendidikan Islam.

“Kita harus memahami, bahwa umat Islam masih berat untuk membiayai pendidikan Islam pada anak-anaknya, sementara untuk membiayai pendidikan umum, berapa pun dan dengan cara apa pun akan dilakukan. Sementara pendidikan Islam itu merupakan dasar bagi anak-anak kita. Inilah catatan besar yang harus menjadi perhatian kita untuk kemajuan pendidikan Islam,” pungkas Agus. (is)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *