Tuesday , October 23 2018
Home / Pedidikan / Ustadz Syaefudin: Zakat Sebagai Pertolongan Bagi Yang Tak Mampu

Ustadz Syaefudin: Zakat Sebagai Pertolongan Bagi Yang Tak Mampu

depokklik.com — Zakat adalah ibadah maaliyah ijtima’iyyah yang memiliki posisi sangat penting, strategis, dan menentukan. Baik dilihat dari sisi ajaran Islam maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat.

Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun Islam yang ketiga dari rukun Islam yang kelima. Sebagai mana diungkapkan dalam berbagai hadist Nabi, sehingga keberadaannya dianggap sebagai ma’luum minad-diin bidh-dharurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.

“Timbul pertanyaan bagaimana upaya untuk tidak memiliki sifat ‘jazu’a’ dan ‘manu’a’. Di sinilah Islam menjawab, diperlukannya zakat. Bahkan dalam pemikiran perkembangan manusia muncul istilah ‘zakat profesi’. Karena itu, zakat mempunyai fungsi yang cukup strategis untuk menolong ornag yang tidak mampu,” tutur Ustadz Syaefudin Zuhri saat menjelaskan Al Quran Surat Al Ma’arij ayat 24, dalam Kajian Tafsir Sabtu Shubuh, 24 Februari 2018, di Masjid Baiturrahim, Perum Taman Cipayung, Kota Depok.

Selanjutnya Syaefudin Zuhri menjelaskan, karena di zaman Rasulullah belum dikenal istilah tersebut, sehingga muncul berbagai pemahaman atau perbedaan pemahaman yang masing-masing memiliki landasan hukum nya, baik yang setuju maupun yang berbeda.

“Seperti Dr Yusuf Al Qardhowi setuju dengan mengacu kepada persyaratan atau ketentuan dalam zakat hasil pertanian. Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga setuju dengan pengertian memenuhi dan sesuai dengan nishob dan haul,” tutur alumni IAIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Orang orang yang memperoleh rezeki yang lebih dari Allah, lanjut Syaefudin, ada hak atau bagian tertentu bagi orang-orang yang memerlukan pertolongan. Di sisi lain manusia yang memperoleh rezeki yang sedikit dari Allah, merasa dan berfikir bahwa Allah sedang tidak baik dengan dirinya.

“Inilah sifat manusia suka mengeluh, bila manusia memperoleh kelebihan, Allah telah memberi kemuliaan dirinya. Karena itu, agar tidak halu’a atau jazu’a dan manu’a, maka zakat dan sholat sebagai penangkal sifat tersebut,” tutur jebolan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin dan Lebaksiu Tegal itu.

Pada ayat sebelumnya, lanjut Syaefudin, telah diuraikan bahwa sungguh manusia itu diciptakan suka mengeluh ‘haluu’a’ keluh kesah, apabila ditimpa ujian keluh kesah, itulah sifat dasar manusia. Bila diberi kelebihan, lupa kepada Allah, begitu juga dasar penciptaan manusia itu pelit  (kikir) ‘manu’a’ merasa Allah telah memuliakan aku ketika diberi kelebihan.

“Tetapi, ketika Allah menguji dengan sedikit kesulitan mengeluh ‘jazu’a’ kecuali orang orang sholat, sholat yang bagaimana, yaitu sholat yang mampu menghindari dari perbuatan keji dan mungkar. Bila belum, berarti belum sholat kata Nabi, karena itu dalam menjalankan sholat harus konsisten, ‘daaimun’ memenuhi syarat dan rukunnya benar,” tandas santri dari dari Kyai Fathoni dan Kyai Abdul Malik ini. (is/syur)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *