Tuesday , August 14 2018
Home / Pedidikan / Dr. Satrio Arismunandar: Bobot Amal Dinilai Dari Keikhlasannya

Dr. Satrio Arismunandar: Bobot Amal Dinilai Dari Keikhlasannya

depokklik.com —- Setiap perbuatan manusia terdapat sesuatu yang dzahir dari perbuatan tersebut, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan dan sesuatu yang dalam batin, yaitu niat perbuatan yang tersembunyi di dalam hati sanubari si pembuat amal itu sendiri.

Nilai suatu perbuatan akan ditentukan oleh kualitas perbuatan dan niat perbuatan, malahan niat perbuatan merupakan landasan dari seluruh perbuatan. Allah Taala hanya menerima perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas.

Ikhlas bukan berarti kosong, walaupun makna asal kata ikhlas yaitu “kha-la-sa” adalah kosong. Secara definisi ikhlas adalah sesuatu perbuatan yang dilakukan hanya karena Allah Taala. Dengan demikian, bobot amal seseorang dinilai dari keikhlasannya.

“Keikhlasan merupakan topik yang terkesan biasa. Kita tahu bahwa dalam ajaran Islam, segala amal ibadah dinilai dari niatnya. Amal yang kecil, jika niatnya benar, maka amalan kecil itu bisa bernilai sangat tinggi,” tutur Dr. Satrio Arismunandar dalam Kultum di Masjid Baiturrahim, Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok, Ahad 25 Februari 2018.

Namun, amal perbuatan yang terkesan hebat dan luar biasa, jika niatnya tidak benar, bisa tidak ada nilainya di mata Allah. Penentu kemurnian niat itu adalah keikhlasan.

Selanjutnya Arismunandar memberi ilustrasi dengan besaran sedekah yang diberikan. “Saya ambil contoh sebagai ilustrasi. Misalnya, ada orang bersedekah Rp 1.000. Namun, karena dilakukan ikhlas karena Allah, bobot keikhlasan amal itu adalah 1 juta. Maka nilainya di mata Allah adalah 1.000 x 1 juta = 1 miliar,” tutur Arismunandar mencontohkan.

Sebaliknya, lanjut Doktor Filsafat jebolan Universitas Indonesia (UI) ini, ada seorang politisi menyumbang ke masjid sebanyak Rp 1 miliar. Namun, karena niatnya tidak ikhlas untuk mencari ridho Allah, tetapi sekadar mencari suara dukungan untuk Pilkada, maka bobot keikhlasan itu nol. Maka nilainya di mata Allah adalah 1 miliar x nol = nol.

“Untuk mencapai keikhlasan yang sejati, sebenarnya bukanlah hal yang mudah. Keikhlasan itu secara bahasa adalah semacam kemurnian. Ibarat seperti susu murni, yang bersih dari campuran zat lain apapun, entah itu darah, kotoran, noda, dan sebagainya,” ucapa Arismunandar menjelaskan.

Wartawan senior ini juga mengibaratkan bahwa ketidakikhlasan seseorang dalam beramal, bagai noda dalam amal kita yang cenderung akan merusakkan amal itu sendiri.

“Noda yang bisa merusak keikhlasan suatu amal perbuatan adalah riya’ atau keinginan untuk dipuji atau diapresiasi oleh makhluk atau orang lain. Sementara hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya,” tandasnya.

Arismunandar menilai, cara mengukur keikhlasan seorang dalam beramal cukup mudah. “Jika Anda begitu bersemangat sholat ketika dilihat oleh orang lain, tetapi malas sholat ketika sendirian di rumah, maka berarti ada yang tidak benar dengan niat Anda. Ini adalah tingkatan keikhlasan yang paling rendah,” tuturnya mengingatkan.

Namun demikian, lanjut Arismunandar, dengan sholat sendirian di malam yang sepi bukan lantas amalan kita pasti aman dan diterima oleh Allah. Kita  bisa tergoda oleh rasa ujub, bangga pada diri sendiri. Merasa bangga bahwa kita adalah orang alim dan sholeh, karena sudah beribadah di tengah malam ketika banyak orang lain sedang tidur lelap. Rasa ujub ini bisa merusak amal perbuatan kita.

Karena itu, ikhlas itu ada tingkatan-tingkatannya. Selain keikhlasan yang rusak karena riya’ itu, ada tingkatan yang lebih tinggi. Yakni, orang yang beramal karena Allah, tetapi di dalam hatinya terbesit keinginan pada dunia. Ibadahnya dilakukan hanya untuk menghilangkan kesulitan hidup dunia. Ia melaksanakan sholat tahajud dan bersedekah karena ingin usahanya berhasil, dan sebagainya.

“Tingkatan di atasnya, ada orang yang beramal karena Allah dan hatinya bersih dari riya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan karena Allah, dan demi meraih kebahagiaan akhirat, menggapai surga, dan takut masuk neraka,” lanjutnya.

Kemudian, di tingkatan atasnya lagi, ada orang yang beribadah hanya karena Allah, bukan karena ingin surga atau takut masuk neraka. Semuanya dilakukan karena cinta pada Allah, karena bakti dan memenuhi perintah dan mengagungkan-Nya.

“Masih ada tingkatan yang lebih tinggi. Yakni, orang yang dalam ibadahnya memiliki perasaan bahwa ia digerakkan oleh Allah. Ia merasa bahwa yang beribadah itu bukanlah dirinya. Ia hanya menyaksikan, ia sedang digerakkan Allah, karena berkeyakinan bahwa ia tidak memiliki daya dan upaya melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya berjalan atas kehendak Allah,” pungkasnya. (is/syur)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *