Wednesday , April 25 2018
Home / Pedidikan / Ustadz Zaenal Muttaqin: Mencapai Kebaikan Dalam Hidup

Ustadz Zaenal Muttaqin: Mencapai Kebaikan Dalam Hidup

depokklik.com — Beruntunglah seseorang yang bisa mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Banyak manusia hanya memiliki salah satunya atau bahkan tidak kedua-duanya. Ada orang yang sengsara di dunia, tetapi di akhirat mendapat surga.

Banyak pula orang yang di dunia bersuka cita, namun di akhirat masuk neraka. Paling celaka adalah orang yang di dunia sengsara dan di akhirat masuk neraka. Itulah orang miskin yang ingkar.

Menurut Ustadz Zaenal Muttaqin, yang merujuk perkataan Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah (KW), ada delapan (8) hal harus mendapat perhatian dalam menghambakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Pertama, tidak ada kebaikan bagi orang yang sholat yang tidak khusu’ dalam sholatnya. Khusu’ dalam sholat itu wajib, bukan sekadar syarat,” tutur Ustadz Zaenal Muttaqin dalam Muhasabah di Masjid Baiturrahim, Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok, Rabu Shubuh 28 Februari 2018.

“Seperti yg dikatakan oleh guru kami Ahmad An-Nahrawi, Allah telah mewahyukan kepada sebagian para nabi-nabinya ‘Wahai hamba-Ku berikanlah air matamu dan dari hatimu rasa khusu’, kemudian berdoalah engkau, maka akan aku kabulkan. Sedangkan Aku adalah Allah yang dekat, yang Maha mengabulkan doa,” tutur Ustadz Zaenal.

Selanjutnya, yang kedua adalah dalam berpuasa hendaklah menahan perkataan yang tidak berguna. “Yang kedua, tidak ada kabaikan dalam puasa yang tidak dapat mencegah dengan puasanya tersebut dari perkataan yang tidak berguna,” tuturnya.

Ketiga, membaca Al Quran perlu disertai dengan mentadaburinya, yaitu memahami sedikit demi sedikit ayat-ayat tersebut, berfikir di dalamnya, memperdalam pandangan ke dalamnya, sehingga memahami hidayah-hidayah yang dikandungnya.

Ketiga, tidak ada kebaikan dalam membaca Al Qur’an yang tidak disertai dengan mentadaburinya. Di sini mentadaburinya berarti memahami sedikit demi sedikit ayat-ayat tersebut, berfikir di dalamnya, memperdalam pandangan ke dalamnya, sehingga memahami hidayah-hidayah yang dikandungnya,” tutur Ustadz Zaenal.

Ustadz Zaenal melanjutkan, yang keempat, tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak  waro’, yaitu menjaga dari perkara syubhat dan yang diharamkan.

“Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak waro’, yaitu menjaga dari perkara syubhat dan yang diharamkan. Kita berhati-hati terhadap sesuatu yang jelek akibatnya. Yaitu seseorang mengetahui sesuatu itu haram, kemudian ia ragu akan haramnya. Padahal jika meninggalkannya tidak menimbulkan bahaya,” tuturnya.

Selanjutnya, yang kelima, tidak ada kebaikan dalam harta yang tidak diinfaqkan untuk jalan Allah.

“Tidak ada kebaikan dalam harta yang tidak diinfaqkan untuk jalan Allah. Sebab di antara kunci-kunci rizki lain adalah berinfak di jalan Allah,” jelasnya.

Yang keenam, tidak aka nada kebaikan dalam persaudaraan jika tidak menjaga persaudaraan. Karenanya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam (SAW) selalu mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga keutuhan persaudaraanya di dalam Islam.

“Sehingga, tidak ada kebaikan dalam persaudaraan yang tidak menjaga dalam persaudaraan. Melalui sabdanya, Muhammad SAW telah begitu banyak mengingatkan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga keutuhan persaudaraanya di dalam Islam, karena Islam adalah agama yang mengharamkan umatnya untuk memutuskan tali persaudaraan atau silaturahmi, terutama dengan saudara yang berada dalam satu naungan agama Islam,” tutur Ustad Zaenal.

Yang ketujuh, tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang tidak selalu ada. Karena itu, rasa syukur pada Allah menjadi hal yang sangat perlu. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, nikmat Allah selalu tercurah. Bahkan, ketika tidur pun nikmat itu tetap ada.

“Tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang tidak senantiasa selalu tetap ada. Setiap detik yang kita lalui, nikmat Allah tidak pernah putus menghampiri kita. Karena saking banyaknya, mustahil kita mampu menghitungnya. Kewajiban kita sekarang hanya satu, yaitu mensyukurinya,” papar Ustadz Zaenal.

Dan yang terakhir adalah, tidak ada kebaikan dalam doa jika tidak dilandasi dengan keikhlasan. Karena keikhlasan merupakan poros dari semua amalam ibadah.

“Tidak ada kebaikan dalam doa yang tidak ikhlas. Keikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa. Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah,” pungkas Ustadz Zaenal. (is/syur)

Check Also

Ustadz Farghob: Memahami Bacaan Surat Al Lahab dan Al Falaq

depokklik.com — Dalam pelajaran Kajian Tajwid Surat Al Lahab dan Surat Al Falaq, Ketua DKM …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *