Saturday , June 23 2018
Home / Pedidikan / Ustadz Mansyur: Allah Melipatgandakan Pahala Kebaikan Manusia Tanpa Batas

Ustadz Mansyur: Allah Melipatgandakan Pahala Kebaikan Manusia Tanpa Batas

depokklik.com — Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. Karena kehidupan di dunia ini merupakan tempat untuk menambah dan memperbanyak amalan-amalan yang baik agar manusia senang setelah kematian serta rela dengan apa yang ia kerjakan.

Allah itu akan melipatgandakan kebaikan manusia yang tidak terbatas, seperti yang dijelaskan dalam Hadist Qudsi, yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda “Kecuali puasa, karena ia milik-Ku dan Aku yang membalasnya,” tutur Ustadz H. M Mansyur dalam Kajian Hadist Riyadush Sholihin Jum’at Shubuh, di Masjid Baiturrahim, Perumahan Taman Cipayung, Kota Depok, 9 Maret 2018.

“Yang dahsyat bahwa Allah melipatgandakan kebaikan manusia yang tidak terbatas, dalam Hadist Qudsi, dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: “Kecuali puasa, karena ia milik-Ku dan Aku yang membalasnya,” menunjukkan bahwa pelipatgandaan pahala puasa tidak diketahui kecuali oleh Allâh sendiri, karena puasa adalah sabar yang paling baik. Allâh SWT berfirman dalam Surat Az-Zumar ayat 10, yang artinya, “…Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.”,” tuturnya.

Selanjutnya Ustadz Mansyur menguraikan, Hadist ke-11 yang bertemakan Niat Kebaikan dan Keburukan bahwa Hadits ini menunjukkan luar biasanya kemurahan Allah SWT kepada hambanya, karena itu kita diajak untuk bersama-sama merenungkan. Dengan mengerjakan kebaikan, balasannya kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali, hingga tujuh ratus kali kebaikan, bahkan sampai tak terhingga.

“Pelipatgandaan kebaikan yang dilakukan manusia itu berlaku bagi seluruh kebaikan. Penegasan ini sebagaimana firman Allâh SWT Surat Al-An’âm ayat 160, yang artinya, “Barangsiapa berbuat kebaikan, maka dia mendapatkan balasan sepuluh kali lipat amalnya.”, tuturnya.

Di ayat lain, lanjut Ustadz Mansyur, yang bearti “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allâh seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji. Allâh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allâh Maha luas, Maha Mengetahui.” tuturnya mengulas Surat Al-Baqarah ayat 261.

Selanjutnya, Dosen Institut STAMI ini mengingatkan, masalah pelipatgandaan balasan kebaikan menjadi lebih banyak itu sesuai dengan kualitas keislaman seseorang. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah RA dan lain-lain.

“Balasan itu juga sesuai dengan keikhlasan, keunggulan suatu amalan dan kebutuhan. Di sinilah pentingnya berilmu dalam beribadah atau berbuat kebaikan,” jelasnya.

Betkaitan dengan berniat untuk mengamalkan kebaikan, niat ini ditulis sebagai satu kebaikan sempurna, walaupun pelakunya tidak mengerjakannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas dan lain-lain. Dalam hadits Abu Hurairah RA, riwayatkan Muslim disebutkan: “Jika hamba-Ku berniat ingin mengerjakan kebaikan, maka Aku menulis satu kebaikan baginya.”

“Zhahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan tahadduts yaitu haditsunnafsi (niat) kuat yang disertai ambisi untuk beramal. Jadi, tidak hanya sekedar bisikan hati yang kemudian hilang tanpa semangat dan tekad untuk beramal,” tandasnya.

Jika niat sudah disertai perkataan dan usaha, urai Ustadz Mansyur, maka balasan sudah pasti diraih dan orang itu sama seperti orang yang melakukan, seperti diriwayatkan dari Abu Kabsyah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda :

“Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang : (pertama) hamba yang Allâh berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allâh). (kedua) hamba yang Allâh berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama. (ketiga) hamba yang Allâh berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allâh dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allâh. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allâh). Dan (keempat) hamba yang tidak Allâh berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.”

Lalu bagaimana dengan mengerjakan kejahatan atau keburukan. Satu keburukan ditulis satu keburukan tanpa dilipatgandakan, Subhanaallah. Sebagaimana firman Allâh SWT dalam Surat Al-An’âm ayat160, yang artinya, “…Dan barangsiapa berbuat kejahatan, maka dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizhalimi).”

“Yang menjadi catatan adalah tidak menutup kemungkinan sebuah kesalahan bisa menjadi besar disebabkan tidak ada penyesalan perbuatan jahat itu dilakukan atau justru menjadi bangga atas dosa yang dikerjakan,” jelasnya.

Hal itu bisa terjadi pada kesalahan yang dilipatgandakan balasannya disebabkan pelakunya orang terpandang, orang ber-ilmu, pemimpin, karena banyak tahu tentang Allâh dan dekat kepada-Nya. Oleh karena itu, Allâh SWT mengancam akan melipatgandakan balasan kemaksiatan jika dilakukan oleh para hamba pilihan-Nya, padahal Allâh l telah menjaga mereka dari kemaksiatan tersebut. Pemberian ancaman ini bertujuan untuk menampakkan betapa agung nikmat Allah kepada mereka yang telah menjaga mereka dari berbagai berbuatan maksiat.

“Karena itu Firman Allah Suart Al-Isrâ’ Ayat 74-75 mengingatkan “Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati) mu, niscya engkau hampir saja condong kepada mereka, jika demikian, tentu akan Kami rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan berlipat ganda setelah mati, dan engkau (Muhammad) tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.”,” jelasnya.

Selanjutnya Allahy berfirman dalam Surat Al-Ahzâb ayat 30-32 yang artinya, “Wahai istri-istri Nabi! Barangsiapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan-perbuatan keji yang nyata, niscaya adzabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allâh. Dan barangsiapa di antara kamu (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mengerjakan kebaikan, niscaya Kami berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan Kami sediakan rezeki yang mulia baginya. Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemahlembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.”

Berkaitan dengan niat melakukan keburukan, tetapi tidak dikerjakan, Ustadz Mansyur menjelaskan, dalam Hadits Ibnu ‘Abbas RA bahwa orang yang berniat melakukan keburukan namun tidak dikerjakannya, maka itu ditulis sebagai satu kebaikan yang sempurna.

“Hal yang sama dalam hadits Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan lain-lain. Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan, ”Dia meninggalkan kesalahan tersebut karena takut kepada-Ku.” Ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan dalam hadits itu ialah orang yang mampu mengerjakan kemaksiatan yang ia inginkan namun kemudian ia tinggalkan karena Allâh. Untuk orang seperti ini, pasti dituliskan baginya sebagai kebaikan. Sebab, meninggalkan maksiat karena Allâh SWT merupakan amal sholeh,” tegasnya.

Adapun orang yang berusaha mengerjakan kemaksiatan dengan segenap tenaganya kemudian dihalang-halangi takdir, maka sejumlah ulama menyebutkan bahwa ia disiksa karenanya, sebab Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya Allâh memaafkan umatku dari keburukan yang mereka bisikkan ke jiwa mereka selagi mereka tidak mengucapkannya atau mengerjakannya.”

Selanjutnya dijelaskan dalam Sabda Nabi SAW, yang artinya, “Selagi mereka tidak mengatakannya atau mengerjakannya,” menunjukkan bahwa orang yang berniat melakukan maksiat, jika ia sudah mengutarakan keinginnnya itu dengan lisan, berarti ia berdosa karena ia telah berlaku maksiat dengan salah satu organ tubuhnya, yaitu lidahnya.

“Ini juga diperkuat dengan hadits yang menjelaskan tentang orang yang berkata, “Seandainya aku mempunyai harta, aku pasti mengerjakan apa yang dikerjakan si fulan (yang bermaksiat kepada Allâh dengan hartanya),” kemudian Nabi SAW bersabda, “Kedua-duanya sama dalam dosa”,” pungkas Ustadz Mansyur. (is/syur)

Check Also

Masjid Baiturrahim Didik Anak Lewat Dongeng

depokklik.com — Cara yang paling tepat dan efektif untuk mendidik anak lewat media dongeng atau …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *