Tuesday , August 14 2018
Home / Pedidikan / H. M. Mansyur: Allah Terima Taubat Manusia Sebelum Sakarat

H. M. Mansyur: Allah Terima Taubat Manusia Sebelum Sakarat

depokklik.com — Allah menerima taubat hamba-Nya (manusia) selama sebelum sakarat (HR. Tirmidzi). Hadits ini tertuang pada Hadits ke-6/ke-18. Disebutkan, kematian dalam pandangan Islam bukanlah suatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdian kepada Allah dalam hidup ini, juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi serta mendapatkan keadilan sejati.

“Jadi kematian sebatas perpindahan tempat, yaitu dari kehidupan di dunia kemudian beralih ke alam kubur dan berlanjut ke alam yang lebih kekal yaitu akherat. Bagi siapapun yang beriman dan bertaqwa dijanjikan oleh Allah akan mendapatkan kebahagiaan yang tidak tertutup putus, karena itu kematian tidak perlu dianggap menjadi sebuah persoalan, tutur H. M. Mansyur dalam Kajian Hadits Riyadush Sholihin-Jum’at Shubuh (18/5/2018), di Masjid Baiturrahim Taman Cipayung, Kota Depok.

Dalam hal sakaratul maut, Mansyur menjelaskan bahwa kisah pertaubatannya Fira’un yang disebutkan dalam surat Yunus ayat 90 – 91. Fir’aun, pada saat menjelang ajal baru dia mau taubat dan beriman, oleh karena itu taubatnya tidak diterima, sebagaimana Hadits ke-6 Bab Taubat tersebut di atas.

“Sabda Rasulullah SAW: “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi). Begitu juga dengan Sabda Rasulullah SAW: “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari),” jelas Dosen Institut STAMI ini.

Seandainya ada mayat yang hidup lagi dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya, makan juga tidak enak.

“Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut,” tutur Mansyur.

Dalam Hadits yang diriwayatkan Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah disebutkan bahwa Syaddad bin Aus RA, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”.

“Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah: “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19],” jelas Mansyur.

Selanjutnya Mansyur menjelaskan, sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian.

Dengan mengutip Surat Al Qiyamah ayar 26-30), Mansyur menjelaskan bahwa “Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”.

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut: Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) “Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata: “Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]” .

Sementara itu dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan: “Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”.

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda beda.

Karena itu, Mansyur mengingatkan bahwa kematian seorang beriman telah dijanjikan Allah untuk ditempatkan tempat yang mulia.

“Karenanya, lakukanlah amalan baik, perbanyak taubat sebelum ajal tiba… karena taubat adalah gerbang perubahan perilaku, bukan sekadar kata-kata,” pungkasnya. (is/sur)

Check Also

Ustadz Mansyur: Allah Melipatgandakan Pahala Kebaikan Manusia Tanpa Batas

depokklik.com — Setiap orang muslim di antara kita tentu menginginkan berumur panjang supaya bertambah kebaikannya. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *