Tuesday , October 23 2018
Home / Depok / Kampung Dongeng Depok Asah Kemampuan Relawannya

Kampung Dongeng Depok Asah Kemampuan Relawannya

depokklik.com — “Di sebuah hutan yang sejuk, dengan pohon-pohon yang tinggi, hiduplah seekor anak jerapah, Jeje namanya. Jeje suka memakan daun-daunan, rasa lapar pun hilang. Bahkan karena kenyangnya, Jeje pun tertidur pulas di tengah hutan di bawah pohon yang rindang . Tapi …. Tiba-tiba angin datang begitu kencang dan terdengar suara braaaak…..  Sebuah ranting besar  jatuh mengenai kaki Jeje,” itulah penggalan awal cerita yang disampaikan Kakak Zaki pendongeng dari Kampung Dongeng (Kado) Depok, dalam latihan untuk Relawan Kado Depok, hari Sabtu 22 September 2018.

Dalam sesi latihan tersebut, Kak Zaki yang juga Ketua KaDo Depok itu menjelaskan bahwa mendongeng, merupakann upaya untuk memberikan pesan tersirat pada anak-anak tanpa terkesan mengguruinya. “Di sinilah sebenarnya misi kita mendongeng, mencoba menyisipkan  pesan moral untuk membangun karakter anak,” tutur Kak Zaki.

Selanjutnya Kak Zaki menjelaskan mengenai teknik bercerita, yang pertama perlu adanya posisi yang nyaman. Dengan posisi yang nyawan seorang pendongeng akan dapat dengan leluasa untuk menyampaikan dongengnya dengan lancar.

“Yang tak kelah pentingnya adalah vokal dan ekspresi harus diperhatikan untuk memberi penekanan pada hal-hal yang seru. Jangan lupa untuk melatih beragam vokal dari karakter-karakter tertentu, misal suara kucing, suara gajah, suara ayam, dan sebagainya,” tutut Kak Zaki menjelaskan.

Kak Zaki mengingatkan, dalam mendongeng, improvisasi menjadi sesuatu yang tak boleh ditinggalkan agar suasana tidak terlihat kaku. ”Improvisasi adalah hal yang penting. Ada kondisi-kondisi tertentu dongengnya perlu diimprovisasi, supaya tidak terdengar terlalu kaku, agar suasana nyaman dan akrab,” tutur Kak Zaki menjelaskan.

Selanjutnya, pelibatan terhadap anak akan membuat suasan cerita semakin hidup dan anak-anak yang mendengarkan tidak dibuat pasif. “Pelibatan anak sebagai pendengar dongeng sangat penting untuk dilakukan. Jangan biarkan si anak menjadi penonton pasif, yang akan mengantuk dalam sekejap. Biasakan untuk melibatkan anak dalam dongeng, buat pertanyaan-pertanyaan atau keterlibatan anak sesuai kemampuan dan usianya,” jelasnya.

Terkait dengan akhir cerita, perlu dipastikan adanya penutup, karena dengan penutup itulah aka ada kesimpulan dari cerita. “Pastikan untuk memberi kesimpulan dari cerita yang disampaikan agar anak paham dengan maknanya dan bisa mengingat pesan yang ada di dalam dongeng,” urainya.

Dalam evaluasinya terhadap latihan tersebut, Kak Zaki menjelaskan bahwa dalam mendongeng perlu adanya komunikasi yang baik dengan anak-anak yang sedang mendengarkan dongeng dan perlunya memperbanyak dialog.

“Komunikasi dengan anak-anak yang  sedang mendengarkan dongeng sangat penting untuk dilakukan. Sebagai contoh, “Bagaimana kalau aku mencari sahabat ku Gajah? Bagaimana Teman-teman? Boleh tidak?” anak-anak  menjawab “boleh”,” tutur Kak Zaki mencontohkan.

Dan begitu juga dialog perlu diperbanyak dilakukan agar suasan cerita tidak monoton dan terlihat adanya pelibatan terhadap anak. Contohnya dialog: “Ibu, boleh mencari makan?” “Teman-teman boleh ambil wortel?” dengan mengambil kaki anak-anak, “Ah itu ada wortel tuh, tolong ambilin dong temen-teman, hap!

Dalam sesi latihan kali ini, tampil Kak Taufan, Kak Erna, Kak Didi, dan Kak Nuris dengan berbagai gaya dan pengalamannya masing-masing.

Dalam latiha tersebut juga muncul saran agar, lebih banyak latihan pada olah vocal untuk melatih jenis-jenis suara agar saat tampil sudah memiliki dasar berbagai jenis suara. (is/fan)

Check Also

PMI Depok Gerak Cepat Atasi Bencana Longsor

depokklik.com — Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok, mengirimkan tim tanggap darurat untuk meninjau korban …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *