Friday , November 22 2019
Home / Politik / Nuroji Inginkan Pembangunan Budaya dengan Literasi

Nuroji Inginkan Pembangunan Budaya dengan Literasi


depokklik.com — Berbagai laporan dari lembaga kompeten, baik nasional maupun internasional, baik pemerintah maupun institusi nonpemerintah (Non Governmental Organization), menunjukkan bahwa indeks minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat rendah dan memprihatinkan.
 
UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) misalnya, pernah merilis data yang menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Itu artinya dari seribu orang, hanya ada satu yang memiliki minat baca. Ingat, ini hanya “minat baca”.
 
Belum tentu ia suka membaca. Dan belum tentu juga ia suka membaca tulisan-tulisan berkualitas apalagi karya-karya akademik-ilmiah.
 
Menurut Anggota MPR RI dari Fraksi Partai GERINDRA, Nuroji, rendahnya tingkat literasi bangsa kita harus segera didongkrak karena tingkat literasi akan mampu mempengaruhi masyarakat Indonesia dalam pembangunan budaya.
 
“Pengingkatan kemampuan literasi itu sangat penting. Literasi sendiri merupakan kemampuan membaca dan menulis. Keduanya belum menjadi budaya di negara kita. Padahal, perkembangan ilmu dan budaya harus dimulai dari keduanya,” tutur Nuroji dalam Sosialisasi Hasil Keputusan MPR RI, di Depok, Sabtu 2 Februari 2019.
 
Karena itu, Anggota DPR RI dari Daerah pemilihan Depok-Bekasi ini mengingatkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya budaya literasi tersebut, antara lain: kebiasaan membaca belum dimulai dari rumah, perkembangan teknologi yang makin canggih, sarana membaca yang minim, kurang motivasi untuk membaca, dan sikap malas untuk mengembangkan Gagasan
 
“Aktivitas membaca masih belum dibiasakan dalam ranah keluarga. Orang tua hanya mengajarkan membaca dan menulis pada level bisa, belum terbiasa. Padahal, budaya literasi harus dibiasakan sejak kecil. Misalnya, membiasakan membaca cerita untuk anak atau mengajarkan menulis buku harian,” jelas Anggota Komisi Pendidikan DPR RI ini.
 
Mengenai perkembangan teknologi yang makin canggih, Nuroji mengingatkan, ternyata turut meninggalkan budaya literasi di Indonesia. Orang-orang lebih suka bermain dengan gawai daripada membaca. Membaca jadi terasa menjemukan dibandingkan dengan bermain gawai.
 
Teknologi yang makin canggih juga diimbangi dengan media sosial yang makin banyak. Media sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya memungkinkan Anda membaca berita palsu. Sebetulnya, berita hoax tersebut dapat diperangi dengan budaya literasi. Teknologi yang makin canggih seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan bahan literasi.
 
Terkait dengan sarana membaca yang minim, Nuroji menandaskan, “Sarana membaca yang minim ternyata juga membuat kebiasaan membaca ini sulit dilakukan. Sarana tersebut misalnya perpustakaan. Bagaimana kondisi buku di perpustakaan sekolah atau kota.”
 
Tak kalah pentingnya adalah masalah kurangnya motivasi untuk membaca, menurut Nuroji, kurang minat baca adalah penyebab rendahnya budaya literasi di Indonesia. Terkadang, beberapa orang merasa tidak mengerti manfaat membaca sehingga tidak tertarik untuk melakukannya. Membaca membutuhkan waktu khusus memang, tetapi membaca itu memiliki banyak manfaat. Guru yang lebih banyak memberikan ceramah kepada siswa juga ikut melemahkan budaya literasi.
 
Dari rendahnya motivasi untuk membaca akhir berpengaruh dan menajdi sikap malas untuk mengembangkan gagasan. Sebab, literasi tidak hanya membaca, tetapi dilanjutkan dengan menulis. Bagaimana dapat terampil menulis jika jarang membaca? Menulis membutuhkan kosakata yang akan diperoleh dari membaca.
 
“Setelah memiliki bahan untuk menulis, tantangan selanjutnya adalah mengembangkan gagasan. Hal tersebut membutuhkan waktu yang cukup untuk pengendapan ide. Proses itulah yang biasanya membuat orang malas menulis,” jelas Nuroji.
 
Karena itu Nuroji kembali mengingatkan, beberapa hal penyebab budaya literasi di Indonesia rendah harus segera diakhir, karena membaca akan membuka wawasan baru. Sesuatu yang belum kita temui di lingkungan, belum diajarkan oleh orang tua, dan belum dijelaskan oleh guru bisa didapatkan dengan membaca.
 
“Mari membaca karena buku adalah jendela dunia! Mari menulis karena tulisan adalah pengikat ilmu!,” ajak Nuroji. (is/ir)

Check Also

Pengamat: Putusan MK Untungkan Petahana dan Keluarganya

depokklik.com — Pengamat politik dari Populi Center, Nico Harjanto menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengabulkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *