Sunday , December 15 2019
Home / Nasional / Nuroji: Pancasila Perlu Diperkokoh Lewat Kesetiakawanan Sosial

Nuroji: Pancasila Perlu Diperkokoh Lewat Kesetiakawanan Sosial


depokklik.com — Bangsa Indonesia usai melaksanakan pesta demokrasi yang besar pada April 2019, yakni pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden/wakil presiden langsung dan serentak, telah merubah cara pandang antara ormas, partai politik, daerah, dan masyarakat. Karenanya, kita perlu terus dalam merawat, menjaga, dan memekarkan karakter kesetiakawan­an sosial dan harmoni Indonesia.
 
“Meski kita baru saja menghadapi pesta demokrasi yang besar, kita perlu terus merawat, menjaga, dan memekarkan karakter kesetiakawan­an sosial dan harmoni Indonesia,” tutur Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Nuroji.
 
Dalam sosialisasi hasil keputusan-keputusan MPR RI yang diselenggarakan pada hari Selasa, 26 November 2019, di Depok itu, Nuroji juga mengingatkan pentingnya menjaga toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Sangat relevan dengan kondisi kekinian yang dihadapkan dengan urgensi menjaga toleransi, solidaritas, integrasi sosial, serta persatuan dan kesatuan bangsa,” tutur Anggota Komisi IX, Bidang Kesra DPR RI ini.
 
Suhu perpolitikan di Tanah Air kerap terasa hangat dan bahkan panas, dalam periode kampanye pilpres yang telah bergulir beberapa waktu yang lalu. Kita berharap, kompetisi sebagai ciri demokrasi mendewasakan kehidupan kita dalam berbangsa, bukan justru melemahkan kohesivitas sosial.
 
“Indonesia ditakdirkan sebagai negara yang dibangun di atas kemajemukan dan keberagaman. Perbedaan identitas sosial ialah modal sosial, modal kultural, dan modal spiritual dalam membangun Indonesia yang majemuk,” timpal putra asli Depok tersebut.
 
Karena itu, tambah Nuroji, kemajemukan dan keberagaman bukan penghalang, tapi justru fondasi dari demokrasi sosial, ekonomi, dan politik yang semakin tumbuh dan mekar. “Karena itu, untuk menjaga kelanggengan dalam negeri majemuk, semua komponen bangsa wajib sepakat bahwa kemajemukan dan keberagaman dijaga dan dirawat,” jelasnya.
 
Karena, “Seluruh anak bangsa wajib saling menghargai, saling menghormati. Kemajemukan dan keberagaman bisa menjadi kekuatan mahadahsyat jika kita mampu menjaganya dengan baik dalam persatuan Indonesia, dalam bingkai NKRI.”
 
Para pendiri bangsa atau The Founding Fathers telah sepakat memfinalkan penghormatan atas kemajemukan sebagai bagian dari sikap keberbangsaan kita. Realitas kemajemukan dan keberagaman bangsa telah mengukir tinta emas sejarah pada setiap generasi.
 
“Lihatlah peristiwa pada 1908, 1928, 1945, 1955, 1966, 1977, 1988, 1998, dan seterusnya, sampai di penghujung 2018 untuk masuk babak baru 2019-2024. Pada babak sejarah ini, roh kemajemukan dan keberagamanlah energi yang menggerakkannya,” jelas Nuroji mengingatkan rentetan toleransi dan solodaritas sosial dalam sejarah Bangsa Indonesia.
 
Inilah kenyataan sosiologis Indonesia. Pantaslah seloka Bhinneka Tunggal Ika atau tanhana dharma mangrowa, yang tercengkeram kukuh di sepasang kaki burung garuda, tidak pernah diprotes atau digugat kelompok sosial manapun di Indonesia.
 
“Maknanya, kita semua menerima Indonesia sebagai bangsa heterogen. Pancasila menjadi titik temu dari berbagai perbedaan dan keberagaman. Banyak negara memuji Indonesia karena di atas ladang kemajemukan dan keberagaman, tumbuh dengan subur dan makin kukuh dengan pohon demokrasi,” simpulnya. (is/ir)

Check Also

Nuroji: Kita Perlu Membangun Bangsa Mulai Hal Sederhana

depokklik.com — Tak terasa seiring bergulirnya waktu, usia negara tecinta Indonesia telah mencapai 72 tahun. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *