Tuesday , August 4 2020
Home / Kesehatan / Pelonggaran PSBB dan Abai Protokol Kesehatan, Sebabkan Penularan Covid-19 di Depok Meningkat

Pelonggaran PSBB dan Abai Protokol Kesehatan, Sebabkan Penularan Covid-19 di Depok Meningkat

depokklik.com – Pelonggaran terhadap pembatasan social berskala besar (PSBB), tampaknya berdampak terhadap menaiknya penularan Covid-19 di Kota Depok.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Novarita mengakui bahwa penularan Covid-19 di wilayahnya naik lagi. Berdasarkan data yang dihimpun Kompas.com, kenaikan signifikan kembali tercatat sejak 15 Juli 2020, dengan temuan rata-rata 21 kasus baru Covid-19 setiap harinya di Depok.

“Karena sekarang kan sudah banyak pelonggaran PSBB, kemudian kepatuhan memakai masker juga belum di masyarakat. Jadi kasusnya ya meningkat,” ungkap Novarita kepada media, Jumat (24/7/2020).

Kepatuhan warga yang dianggap minim terhadap protokol kesehatan, utamanya menggunakan masker, kini coba disiasati Pemkot Depok. Pemkot Depok akhirnya memberlakukan denda Rp 50.000 bagi warga yang kedapatan tidak pakai masker di tempat umum mulai Kamis (23/7/2020).

Aturan denda itu sebetulnya sudah diterbitkan sejak 4 Juni 2020. Namun selama ini Pemkot Depok memberi toleransi pelanggaran kewajiban bermasker dengan hanya menerapkan sanksi sosial dan teguran.

Novarita menjelaskan, peningkatan kasus Covid-19 di Depok tidak berupa klaster-klaster tertentu. Ia juga tak menjelaskan dari mana warga Depok tertular Covid-19.

“Merata saja sih kasusnya, tidak berbentuk klaster. Jadi, memang banyak kasus saja yang kami temukan dari hasil pemeriksaannya swabnya,” kata dia.

Sebagai gambaran, angka reproduksi merupakan potensi penularan penyakit oleh seseorang. Apabila angkanya kurang dari 1, maka penularan dianggap bisa dikendalikan karena berjalan lambat.

Namun, jika jumlahnya lebih dari 1, maka penularan akan makin tinggi dan kian banyak pasien yang tertular. Ambil contoh angkanya 2, maka 1 orang pasien positif Covid-19 berpotensi menularkan 2 orang lain, sehingga penularan masih terus terjadi secara cepat.

Novarita mengaku “perlu mengecek data” ketika ditanya soal angka reproduksi kasus Covid-19 di Depok hari ini, sehingga ia tak bisa membeberkan secara presisi angka tersebut.

“Iya, pastinya angkanya (reproduksi kasus Covid-19 di Depok) naik lagi. Di atas 1, tapi di bawah 2,” ujar Novarita.

Data terbaru per Kamis (23/7/2020), ada total 1.081 kasus positif Covid-19 yang tercatat di Depok, sebanyak 834 di antaranya dinyatakan pulih dan 40 orang lainnya wafat. Sehingga, kini ada 205 pasien positif Covid-19 yang sedang dirawat di Depok. Di samping itu, total 122 pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal tanpa konfirmasi laboratorium (hingga 19 Juli 2020).

Dalam pedoman WHO yang diadopsi dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020, kematian PDP (dan ODP) dihitung sebagai kematian yang berkaitan dengan Covid-19 sebagai “kasus probabel”. Namun, sejak 19 Juli 2020, Pemerintah Kota Depok sudah tak lagi mengumumkan jumlah kematian PDP.

Tren kasus Covid-19 di Kota Depok selama sebulan terakhir ini, grafik kasus Covid-19 di Depok selama sebulan terakhir menunjukkan tanggal 24 Juni 2020 sebanyak 6, 25 Juni 2020 sebanyak 8, 26 Juni 2020 sebanyak 7, 27 Juni 2020 sebanyak 5.

Kemudian di bulan Juli, 14 Juli 2020 sebanyak 7, 15 Juli 2020 sebanyak 18, 16 Juli 2020 sebanyak 16, 17 Juli 2020 sebanyak 23, 18 Juli 2020 sebanyak 24, 19 Juli 2020 sebanyak 21, 20 Juli 2020 sebanyak 19, 21 Juli 2020 sebanyak 21, 22 Juli 2020 sebanyak 25, dan 23 Juli 2020 sebanyak 24. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *