Home / Pustaka / Salafi, Suatu Pemahaman Awal

Salafi, Suatu Pemahaman Awal

Ahmad Fauzi, Pengkaji aliran-aliran dalam Islam & Pengasuh pada Sekolah Cikal Madani

depokklik.com — Di era yang semakin canggih (sophisticated) ini, perbincangan tentang salafi tetap tak redup. Berbagai argumentasi tentang salafi bermunculan dengan berbagai versinya. Tulisan ini mencoba mengulas pengertian, rujukan, dan prinsip salafi.

Pengertian

Salafi berasal dari istilah “salaf”. Secara terminologi sosial, salaf berasal dari “Salaf as-Shalih” yang merujuk pada tiga golongan generasi peradaban Islam terdahulu. Para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin.

Dalam kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid oleh Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Ramadhan Abdul Basith Salim, menjelaskan salafi adalah ulama maupun orang biasa yang datang setelah tahun 300 H yang menganut manhaj nya (metodenya).

Sementara menurut Syeikh Imran Hosein dari Trinidad Tobago, Salafi adalah mereka yang ingin mejalankan gaya hidup (manhaj) para aslaf, orang-orang muslim pertama. Dan Nabi Muhammad SAW telah mengatakan “Generasi terbaik adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya dan kemudian generasi setelahnya. “Tsummalladzinalayanalu tsumma ladzinalayaluuna…….” Tiga generasi ini disebut aslaf dan kaum salafi mengatakan, mereka ingin kembali ke gaya hidup para aslaf.

Sedangkan ulama Indonesia, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan, salaf secara istilah merujuk pada generasi salafush sholih, yaitu kurun sebelum tahun 200 H.  Salafi adalah orang-orang yang mengikuti para salafush sholih, siapapun yang mengikuti para salafush sholih maka dia adalah salafi.

Dengan demikian, secara sederhana, salafi adalah golongan orang yang menganut manhaj salaf atau Ahlussunnah wal Jamaah. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah sumber rujukannya memahami aqidah dalam manhaj salaf yang terdiri dari Al-Qur’an, Hadis, dan Ijma salaful salih atau Ulama Salaf.

Secara person tiap mereka (selain Nabi) tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan). Namun, jika Ulama Salaf telah sepakat (ijma’) tentang suatu permasalahan Dien (agama), maka ijma’ mereka itu tidak akan pernah salah. Karena umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat dalam sebuah kesalahan/ kesesatan.

Rujukan

Kaum salafi adalah bagian dari umat Islam yang rujukan utamanya tetap Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad SAW. Di kalangan umat muslim kebanyakan, salafi adalah mereka yang memiliki pemikiran mencoba memurnikan kembali perintah Al-Qur’an dan ajaran yang dibawa Rasulullah SAW.

Ahli dalam bidang ini Imam al-Safarani menjelaskan salah satu rujukan lain kaum salafi adalah mazhab Ahmad bin Hambali. Metodenya dilakukan bebas dari berbagai hal yang tidak dilakukan nabi Muhammad SAW (bidah), khurafat, dan syirik dalam Islam.

Penganut ajaran salaf mempercayai sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H adalah sebaik-baiknya generasi. Merujuk sabda Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” (HR. Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud)

Prinsip

Ada beberapa prinsip khas yang dipegang oleh kaum salafi. Prinsip ini dijelaskan dalam jurnal keagamaan Manhaj Salafiyah oleh Muhammaddin.

Pertama, rujukan utama. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah sumber rujukannya memahami aqidah dalam manhaj salaf yang terdiri dari Al-Qur’an, Hadis, dan Ijma salaful salih atau Ulama Salaf.

Kedua, wujud ketaatan. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah ada kewajiban untuk menaati pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat maksiat. Jika sebaliknya, umat Islam tidak boleh menaatinya, namun tetap wajib taat dalam kebenaran lainnya.

Ketiga, pengkafiran. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah pada masalah pengkafiran, manhaj salaf berpendapat tidak boleh mengkafirkan seseorang atau kelompok dengan sembarangan. Prinsip yang dipegang tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslim, kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan aqidah atau keimanan dan keislamannya sendiri.

Keempat, nilai aqidah. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah al-wala’ wal bara’. Setiap muslim yang beragama dengan prinsip aqidah ini wajib mencintai orang-orang yang memegang teguh aqidah Islam dan berpaling dari orang-orang yang memusuhi aqidah Islam.

Kelima, dakwah. Prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah dengan amar makruf nahi mungkar. Berisi perintah menegakkan yang benar dan mencegah yang salah. Al-ma’ruf adalah semua ketaatan kepada Allah SWT satu-satunya, mengikhlaskan ibadah itu hanya kepada-Nya, dan kemudian ketaatan lainnya baik yang wajib maupun yang sunnah.

Sedangkan al-munkar yang menjadi prinsip yang dipegang oleh kaum salafi adalah semua yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, termasuk di dalamnya kemaksiatan dan kebid’ahan. Adapun kemunkaran yang paling besar adalah syirik kepada Allah SWT.

Pergesekan faham

Di Kerajaan Saudi Arabia pun tidak bisa dilepaskan dari paham salafi, karena bagaimanapun berdirinya Kerajaan Saudi Arabia yang berkuasa sampai sekarang, merupakan kolaborasi antara keluarga Ibnu Saud dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, tokoh kunci cikal bakal faham salafi yang ada sekarang.  Islam ahlu sunnah wal jama’ah salafi menjadi semacam “agama” resmi negara Kerajaan Saudi Arabia.

Sementara di Indonesia, pergesekan faham antara Salafi Kerajaan Saudi Arabia dengan Islam di Nusantara tidak akan pernah selesai, karena memang ada manhaj yang berbeda dalam berislam.  Manhaj salafi cenderung deduktif dalam beragama, berangkat dari premis teks dan diturunkan dalam praktik amal ibadah.

Islam di Nusantara cenderung induktif dalam beragama, hal ini bisa dipahami karena Islam datang ke Nusantara bertemu dengan peradaban kerajaan yang sudah maju kala itu, mau tidak mau terjadilah akulturasi dan kompromi budaya dengan ajaran-ajaran Islam, hingga muncullah model berislam yang ada di Indonesia sekarang.

Kita syukuri dan nikmati saja realitas kekayaan khazanah Islam yang ada di masyarakat kita, biarkan semua itu menjadi kekayaan yang mewarnai dinamika keberagamaan kita. (is/zi)

(Artikel ini merupakan point-point yang disampaikan dalam halal bihalal Yayasan Cikal Madani, Ahad 5 Juni 2022, di Kota Bogor)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *